Rabu, 20 Februari 2008

May be yes... may be no...

Itu adalah sebuah potongan iklan rokok dengan inisial LA yang diklankan oleh Ringgo Agus Rahman.
Di samping itu, kata-kata itu juga identik bagi orang-orang yang dah skripsi, khususnya di UGM. Soalnya wisuda di UGM ada 4 periode, yakni Agustus, November, Februari dan Mei. Jadinya sering ada lontaran kata-kata lucu,"Kapan lulus?", "May be yes, may be no"

Tapi aku berharap agar itu bukan menjadi sloganku.
Sloganku bukan "May be Yes may be no" tapi "Must be May"=harus di bulan Mei (wisudanya). Hehehe...

Selasa, 20 November 2007

Naik Kereta Api, Tut... Tut... Tut...

Postingan kali ini berkaitan secara tidak langsung dengan postingan sebelumnya. Yaitu saat aku datang ke Jakarta untuk presentasi di FIT ISI.

Ceritanya dimulai ketika aku hendak berangkat ke Jakarta dalam rangka FIT ISI. Jadwal presentasiku di FIT ISI adalah hari Rabu 24 Oktober 2007 pukul 14.15. Sedangkan poembukaan dimulai pukul 08.00. Mau tak mau aku harus berangkat sebelum tanggal 24 Oktober.

Tanggal 23 Oktober pagi aku sudah berencana ke Jakarta naik kereta, ya minimal Taksaka jam 20.00 lah. Pukul 10.30 aku ke stasiun tugu untuk pesan tiket Jogja-Jakarta PP. Sekarang kalo kita mau pergi naik kereta, kita bisa sekalian pesen tiket PP. Aku pesan tiket berangkat malam hari itu juga, dan pulang pada hari Kamis malam. Rencanaku, keduanya aku naik kereta Taksaka, sebab aku merasa tidak nyaman kalo naik kereta bisnis, ataupun ekonomi. Ya ga tau lah someday nanti mungkin aku perlu nyoba naik kereta ekonomi atau bisnis lagi.

Pas di loket pemesanan, mba penjaga loket bilang, "Maaf pak, tiket eksekutif ke jakarta dah habis terjual, baik Taksaka, Dwipangga, Bima ataupun Gajayana." Dheg... waduh aku harus naik apa ya, padahal paginya aku dah harus sampai di Jakarta. Aku tanya ke mbak penjaganya, "KJalo bisnis ada nggak mbak?" Mbaknya jawab, "sebentar saya carikan dulu." Setelah menunggu sekian lama, akhirnya aku dapat juga tiket Kereta Api Senja Utama Jogja kelas Bisnis seharga Rp. 120 Ribu. Termasuk mahal sih, padahal, harga normalnya cuma 100 ribu. Tapi teman sebelahku duduk dapet tiketnya langsung dari orang dalam stasiun seharga 150 ribu. Kata penjaganya sih karena masih H+8 Lebaran jadinya tiketnya masih mahal. Ga papa deh, toh yang penting aku harus sampe di Jakarta pagi harinya. Dan untuk pulangnya Alhamdulillaah, aku dapat Tiket Taksaka Kelas Eksekutif seharga Rp. 180 ribu.

Akhirnya pada sore harinya aku berangkat diantar adikku ke stasiun Tugu. Keretanya dijadwalkan berangkat pukul 18.15, tapi nyatanya berangkat dari stasiun Tugu pukul 18.25. Ga papa deh, mungkin roda keretanya lagi kurang angin, jadinya harus ditambah angin... :D

Selama perjalanan Jogja-Jakarta, iseng-iseng aku menghitung berapa kali keretanya berhenti. Hasilnya si kuda besi itu berhenti sebanyak 14 kali, termasuk di Tugu dan Pasar Senen. Kesimpulanku mengatakan bahwa itulah yang menyebabkan Kereta Api bisnis lebih lmbat sampai ke tujuan akhir karena banyak berhenti. Ga tau deh kalo ekonomi, berapa kali dai berhenti.

Oia berhenti di atas yang kumaksudkan adalah berhenti di stasiun, di tengah perjalanan kadang-kadang si kuda besi juga berhenti, mungkin nunggu jalur kosong kali ya. Kereta tersebut berhentio di stasiun antara lain : Tugu, Wates, Kutoarjo, Karanganyar, Kebumen, Gombong, Notog, Purwokerto, Prupuk, Ciledug, Cirebon, Bekasi, Jatinegara, dan Pasar Senen. Kereta Api sampai di Stasiun Pasar Senen pada pukul 05.15. Padahal dalam jadwal yang tertera di tiket, sampai di Pasar Senen pada pukul 03.12.

Setelah turun aku kemudoian menuju tempat FIT SIS berlangsung di kawasan Senayan. Aku hampir lupa, di kereta, ternyata aku juga bersama dengan sesama peserta FIT ISI, yaitu Pak Eko (kebetulan beliau tetangga se dusun tapi beda RT), Pak Tanjung dan Pak Agung. Beliau bertiga berasal dari STPN.

Dari Pasar Senen kami berempat naik busway ke senayan, tapi sempat sampai Ancol karena kami salah bus, akhirnya kami ganti bus di Ancol sampai Dukuh Atas. Dari Dukuh Atas transit ke busway lain ampi di Gelora Bung Karno. Kemudian jalan kaki 200m sampai ke Hotel Athlete Century Park Senayan.

Pas pulangnya aku berangkat dari Hotel Century pukul 20.10 naik taksi ke Gambir. Soalnya keretaku berangkat pukul 20.45. Perjalanan dari Senayan ke Gambir cukup singkat, paling lama 25 menit dah sampai lantai 3 Stasiun Gambir, temnpat di mana jalur kereta terletak. Setelah menunggu 20-25 menit akhirnya kereta datang juga. Aku langsung masuk ke gerbong dan duduk di dekat jendela, kebetulan no kursiku dekat dengan jendela. Kereta berangkat dari Gambir pukul 21.23.

Berbeda dengan KA Senja Utama, kereta ini hanya berhenti sebanyak 4 kali selam perjalanan. Yaitu di Gambir, Purwokerto, Kutoarjo dan Stasiun Tugu. Lumayan singkatlah perjalannya. Sampai si stasiun Tugu pukul 05.50. Lebih nyaman lagi, di kereta Taksak tidak ada pedagang asongan ytang lalu-lalang. Pengamen juga tidak ada. Nyaman lah... Tidak apa bagiku untuk keluar duit 60 ribu untuk kenyamanan tersebut. Sebab, pada hari Kamis siangnya tanggal 25 Oktober, pukul 13.00, aku harus mengikuti Ujian Mid Semester Pendaftaran Tanah... :D

Senin, 19 November 2007

Kuliah Jarak Jauh

Temans...

Kali ini saya akan sampaiakn sebuah kemajuan teknologi yang mungkin baru pertama kali dilakukan dalam dunia perkuliahan, khususnya di jurusan ku, yaitu di Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika.

Dalam kuliah tersebut dilakukan semacam dialog telepon jarak jauh menggunakan perangkat notebook dan koneksi internet. Kuliah ini diampu oleh seorang dosen muda di Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika FT UGM, yaitu I Made Andi Arsana, di mana beliau saat ini sedang mengikuti fellowship research di PBB, khususnya pada bidang kelautan (batas maritim). Mata kuliah yang diajarkan adalah tentang Penentuan dan Penegasan Batas Wilayah. Proses kuliah jarak jauh tersebut menggunakan seperangkat notebook, lengkap dengan microphone dan speaker serta dengan koneksi internet, menggunakan program gtalk dan atau yahoo messanger.

Sejarah diadakannya kuliah jarak jauh tersebut dimulai ketika Pak Andi mengikuti penelitian tentang hukum laut di PBB. Pak Andi merupakan dosen muda yang sering merambahi dunia maya, khususnya dalam pengembangan proses pendidikan. Mata kuliah yang beliau ajar salah satunya adalah Penentuan dan Penegasan Batas Wilayah (PPBW). Mata kuliah tersebut baru ada pada tahun 2006, dan pada tahun ini beliau tidak mengajar karena beliau mengikuti fellowship.

Selama ini, Pak Andi identik dengan mata kuliah PPBW. Oleh karena itu, supaya tidak hilang sentuhan Pak Andi dalam PPBW maka diadakanlah kuliah jarak jauh Jogjakarta-New York .

Pada proses kuliah tidak ada kendala yang berarti, kendala terbesar adalah lemahnya bandwidth koneksi internet yang sering membuat komunikasi terpiutus-putus. Namun secara umum kuliah berjalan dengan normal.

(ditulis oleh seorang kapiten... eh salah, seorang asisten MK PPBW)

Letto, makna di balik lagu...

Dear friends...
Tadi pagi, saat saya di kampus, saya ditanya seorang teman, sebut saja Farid namanya. Dia lagi keranjingan untuk main internet dengan notebook Acer barunya. Dia tanya, "Mas koq blognya ga di-update?" Saya jawab,"Wah ra sempet ngenet je."

Ya sudah, sejurus kemudian saya ke tempat yang bisa untuk akses internet (karena memang butuh untuk email-ing) sekalian lah ngirim postingan di web blog ini.

Tema kali ini tentang sebuah topik di sebuah milis yang saya ikuti. Di mana di milis tersebut sedang ramai-ramainya dibahas tentang makna yang ada dari sebagian besar lagunya Letto.

Letto merupakan sebuah grup band yang tergolong baru di dunia permusikan Indonesia. Band ini bermarkas di daerah Kadipiro Jogjakarta. Pentolan band ini adalah Noe, anak dari Emha Ainun Najib. Lengkapnya klik di sini atau disini.

Secara lengkap, postingan itu berisi :

Ku teringat hati yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi yang kautempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta

Reff :
Ingatkan engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganKu cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta

Back to reff

Siapa yang tak kenal lagu ini? Hampir semua lapisan masyarakat
ngerti betul lagu ini, apalagi saat ini menjadi soundtrack lagu
dari salah satu sinetron di televisi swasta.
Maka tak heran jika anak kecil, remaja aktivis dakwah atau bukan
mengenalnya bahkan mungkin hafal diluar kepala.


Seperti salah satu adik binaan saya. Suatu ketika
dia membuka isi lagu di hp saya, salah satunya terdapat
lagu sebelum cahaya milik letto. Lagu tersebut didengarnya terus menerus
diulang-ulang hingga temen-temen yang lainnya datang.

sengaja saya mendengarkan dia bernyanyi
dan praktis mendengarkan pula apa yang dia nyanyikan. "Sebelum cahaya"??
Penasaran juga kan..apa sih maksud lagu itu???
Sampai akhirnya saya bertanya pada dia,
"dik, asyik banget nyanyinya...hmmm...da banyak kenangan nii...dengan lagu itu??
Dia menjawab, "jelas mbak..banyak kenangan..". Mbak pingin tahu??
Saya mengangguk..dan dia mulai menceritakan apa yang dimaksud kenangan tersebut

Kata pertama yang keluar adalah, "itu kan ngingetin kita sama sholat lail mbak?"

Heran dan takjub sebetulnya hati saya, kok bisa ya??

Dia meneruskannya

Bait pertama lagu ini menunjukkan kalau Alloh selalu mengawasi kita
Alloh melihat kita yang sedang tidur tiba-tiba terbangun...kita pergi untuk ambil air wudhu
maka mengapa disana dituliskan kemana kau pergi...
kemudian kita menegakkan sholat malam, dalam kesunyian, sendiri ketika semua orang tengah terlelap
ketika dingin sangat menusuk di tulang, ketika mata masih terkantuk-kantuk.
Siapa yang sanggup untuk menjalankannya??
Butuh kekuatan hati untuk melaksanakan raka'at demi raka'at, lantunan ayat2
suci yang kita baca dan dzikir dengan penuh ketawadhuan. Inilah makna yang dia temukan dalam baris
perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri, kuatkan hatimu cinta.


Bait kedua, Alloh ingin menentramkan hati kita, Alloh mengingatkan bahwa kita tidak sendiri dalam
menjalankan sholat Lail, lihatlah ada embun pagi yang selalu menemani kita hingga fajar muncul
dari ufuk timur dan rasakanlah sepoi-sepoi angin di sepertiga malam, yang dengan sangat lembut
meniup mukena kita. Sungguh kita tidak sendiri saat sholat Lail ditegakkan. Dan mereka inilah
yang dapat kita jadikan saksi di akhirat kelak.


Bait ketiga menerangkan siapa yang punya tekad kuat tersebut? untuk menegakkan sholat malam
setiap hari, setiap malam. Dia adalah orang-orang yang selalu berpegang teguh pada janjinya
terhadap Alloh. Janjinya bahwa dia kan selalu menjadikan Alloh sebagai Illah dalam hidupnya.
Dan apa yang akan dia dapat? Cinta dari Alloh, pertolongan dari-Nya. Alloh tidak akan pernah
meninggalkan dia sendiri, dia akan senantiasa dipenuhi oleh cinta dari-Nya. Alloh akan selalu
ada bersamanya dan selalu menemani setiap langkah kakinya."


Sejenak setelah percakapan itu, saya termenung, saya teringat ketika saya melaksanakan
sholat Lail pada acara outbond di kaliurang. Saat itu sesi solo camp, dimana setiap orang
dipilihkan tempat dengan jarak tertentu antar satu dengan yang lainnya. Sehingga rasanya
bener-bener sendirian di tengah hutan. Kami satu tim tahu kalau ada panitia yang mengawasi,
namun... karena mereka ada di atas, sedangkan kami peserta da di bawah tebing maka terasa sendiri...

Sholat lail beratapkan langit, benar-benar apa yang digambarkan adik binaan saya tersebut
bisa saya rasakan saat itu. suasana malam yang dingin karena di kaliurang, embun yang
bener-bener bisa saya pegang dan rasakan, dan dinginnya angin malam yang sungguh...
sangat mengesankan di hati, hingga dapat membuat sholat Lail pada saat itu membawa kesan
yang begitu mendalam pada diri saya. Dan untuk kali ini, lagu itu yang membuat kesan
tersendiri buat adik binaan saya.


Di akhir cerita ini, saya ingin mengutip taujih dari ustadz tifatul sembiring, bahwa kekuatan
dakwah ada pada kekuatan hubungan kita dengan manusia dan terutama hubungan kita dengan Alloh. Tegakkan ibadah wajib, perbanyak ibadah sunah, terutama jalankan sholat lail setiap malam, InsyaAllah barakah untuk kita dan dakwah kita.
Disiplin ruhiyah adalah kunci dari kemenangan dakwah ini. Selain itu dialah juga yang dapat
mengantarkan kita pada janji-Nya atas orang beriman.

Dan setiap kita pasti mempunyai cara tersendiri untuk mendisiplinkan ruhiyah kita.
Dan setiap kita pasti mempunyai cara untuk terus bersemangat memperbanyak amalan sunah kita
Dan setiap kita pasti mempunyai cara untuk terus menegakkan sholat Lail di malam-malam yang kita lalui.


Mari...berfastabiqul khairot....ikhlaskan hati tuk senantiasa menambah amal ibadah kita...

(seperti ditulis oleh pu3_mhdauli@yahoo.com dalam sebuah milis.

Rabu, 14 November 2007

FIT ISI 2007

Sahabat sekalian, ada suatu kisah yang ingin aku bagikan kepada sahabat sekalian. Tentang sebuah perjalanan seseorang yang sedang semangat untuk menulis dan mempublikasikan tulisannya tersebut.

Suatu ketika di bulan di mana semua Muslim menjalankan salah satu rukunnya, yakni rukun Islam yang ketiga, aku membaca sebuah postingan di milis alumni Geodesi UGM yang pada intinya adalah mengundang semua orang untuk membuat makalah pada FIT ISI (Forum Ilmiah Tahunan Ikatan Surveyor Indonesia). FIT ISI itu sendiri diadakan pada tanggal 24 Oktober 2007 di Jakarta.

Suatu hari lain, aku bertemu dengan dua orang mahasiswa TGd juga, yakni Farid dan Haris. Mereka juga punya semnagat yang besar dalam hal tulis menulis. Akhirnya kami bertiga berdiskusi dan akhirnya kami sepakat untuk berkol;aborasi untuk membuat makalah dan mengirimkan ke FIT ISI tersebut.

Dengan bantuan seorang dosen muda ( I Made Andi ) akhirnya mengirimkan sebuah makalah untuk dikirim ke FIT ISI tersebut. Sebuah karya kecil tetapi kami menganggap itu adalahsuatu pencapaian terbesar selam ini. Alhamdulillaah...

Di samping itu, aku juga sempat untuk membuat makalah lagi, namun karena tidak sempat diskusi dengan berbagai pihak, akhirnya aku kirimkan makalahku itu dengan namaku sendiri. Pada makalah yang pertama, merupakan hasil kolaborasi antara aku, Farid , Haris, dan Pak Andi.

Beberapa hari setelah labran, aku mendapat kabar bahwa salah satu makalahku diterima untuk diseminarkan. Rasa bangga ada pada diriku. Bayangin aja, baru sekali kirim makalah, langsung diterima dan diseminarkan. Alhamdulillaah... (to be continued)

Selasa, 13 November 2007

Menulis, menulis, dan menulis...

Sudah sejak lama sebanarnya keinginan ini muncul. Dulu, sebagai seorang siswa SMP yang belum mengert, aku termasuk orang yang boleh dibilang penurut, manutan, dan tidak pernah ngeyel, meskipun dalam beberapa kasus aku juga ngeyel sih. Tapi aku pikir wajar lah, namanya juga masih SMP.

Sampai suatu hari, ada sebuah pengumuman dari guruku saat itu, namanya Pak Rudi Darmawan, seorang guru Keterampilan Kelistrikan di SMPN 15 Yogyakarta, menawarkan kepada teman sekelasku bahwa akan diadakan ekstrakurikuler KIR. Aku jadi ingat dengan kakaku Ahmad Kusumaatmaja, yang sekarang jadi asisten dosen di UGM. Dulu saat SMP, dia juga ikut KIR yang tampaknya asyik juga tuh buat ngisi waktu luang. Maklum, dulu waktu SMP, aku tidak punya kesibukan apapun. Berangkat pukul 06.30 dari rumah, kadang lebih sih, trus ampe sekolahan jam 07.00, belum kalo kecegat kereta yang lewat. Kebetulan sekolahku dekat dengan stasiun Lempuyangan. Wal hasil sampe sekolah bisa lebih dari jam 7.

Kembali ke KIR, akhirnya, aku dengan seorang temanku, Surya namanya, ikut dalam KIR tersebut. Aku ingat saat diminta melakukan penelitian, aku dan Surya mengambil topik tentang pedagang asongan. Penelitian itu dilakukan di kawasan Malioboro. Saat ke lapangan, aku dan Surya mengambil tempat pertama kali di Stasiun Tugu. Aku dan Surya naik sepeda dari kawasan Lempuyangan menuju Stasiun Tugu. Sebuah pengalaman menarik untuk diingat.

Singkat cerita, inilah aku sekarang. Seorang manusia yang punya keinginan menulis yang besar tetapi sayang keinginan tersebut sampai sekarang ini belum sepenuhnya terealisasi. Sebuah keinginan memang sudah terlaksana. Menulis dan presentasi di Forum Nasional. Insya Allah lain kali aku ceritakan tentang hal tersebut. Bangga !!! Ya manusia pastilah diberikan sebuah sifat tersebut. Tapi aku berdoa semoga kebanggaan tersebut tidak menjerumuskan aku ke dalam sebuah KESOMBONGAN.